Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 14, '07 6:23 AM
for everyone

KASUS JILBAB DI SEKOLAH-SEKOLAH NEGERI DI INDONESIA

TAHUN 1982-1991

 

OLEH:

ALWI ALATAS

 

* Keterangan: Artikel ini disederhanakan dari paper akademik yang diajukan untuk lomba penelitian LIPI beberapa tahun lalu, walaupun sayangnya tidak menang. Artikel lengkapnya bisa diambil pada attachment di bagian ke-3 tulisan ini. Secara umum isinya hampir sama dengan buku Revolusi Jilbab yang pernah kami tulis, hanya saja lebih ringkas dan lebih mengikuti pola penulisan akademik yang strict. Semoga bermanfaat.

 

Latar Belakang

 

      Hubungan antara Pemerintah Orde Baru dengan umat Islam telah banyak mendapat perhatian dari para pengamat sosial dan politik. Sebagaimana masa-masa sebelumnya, hubungan umat Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami proses pasang surut. Hubungan tersebut diawali dengan adanya kerja sama di antara kedua belah pihak, kemudian terjadi ketegangan dan konflik, dan akhirnya kembali saling mengakomodasi.

      Kerja sama antara kedua belah pihak di awal terbentuknya pemerintahan Orde Baru sebenarnya lebih dilandasi oleh adanya kepentingan bersama, yaitu dalam menjatuhkan rezim Orde Lama dan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta seluruh unsur-unsurnya. Namun, begitu pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Suharto ini berhasil memantapkan kedudukannya dalam pentas politik Indonesia, hubungannya dengan umat Islam segera memburuk. Suharto dan banyak pejabat Orde Baru ketika itu agaknya lebih melihat umat Islam sebagai ancaman bagi kestabilan politik dan pembangunan daripada sebagai mitra, setidaknya sampai paruh kedua tahun 1980-an ketika ketegangan di antara keduanya mulai mencair.

      Ketegangan antara umat Islam dan pemerintah mengemuka antara tahun 1967 hingga paruh pertama tahun 1980-an. Pada periode ini, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang dianggap merugikan umat Islam. Sementara itu, sebagian elemen Islam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah ini secara konfrontatif, sehingga hubungan di antara keduanya memburuk.

      Kedua belah pihak kemudian sama-sama menyadari bahwa hubungan yang buruk ini tidak menguntungkan bagi semua pihak. Mereka pun berusaha untuk mengurangi sikap saling curiga dengan saling memahami posisi dan potensi masing-masing. Titik balik hubungan ini, mengacu pada pendapat Abdul Aziz Thaba, adalah dengan digulirkannya gagasan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1982. Gagasan ini menimbulkan reaksi, baik mendukung maupun menolak, dari berbagai organisasi masa (ormas) Islam. Namun, ketika pemerintah benar-benar menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1985, mayoritas ormas Islam yang ada di Indonesia menerimanya. Sejak itu, mulai terjadi akomodasi antara pemerintah dengan umat Islam.

      Terjadinya ketegangan antara pemerintah Orde Baru yang didominasi militer dengan umat Islam bisa dipahami, mengingat struktur kekuasaan ketika itu banyak diisi oleh kaum Islam abangan. Walaupun keberadaan kaum Islam Abangan dalam pemerintahan Orde Baru ketika itu sulit dibuktikan dengan angka-angka, beberapa ahli percaya bahwa ketegangan antara pemerintah Orde Baru dan umat Islam merupakan refleksi ketegangan antara kelompok Abangan dan kelompok Santri di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa banyak aspirasi kaum muslimin di Indonesia, khususnya aspirasi politik, yang disikapi secara negatif dan bermusuhan oleh pemerintah Orde Baru. Dalam hal politik, sikap pemerintah Orde Baru sama seperti yang dianjurkan oleh Snouck Hurgronje terhadap pemerintah Hindia Belanda pada awal abad kedua puluh, yaitu mendukung Islam sebagai praktek individu dan sosial, tetapi menolak Islam politik.

      Dibatasinya ruang gerak umat Islam di bidang politik tentu tidak harus membuat mereka lumpuh dalam segala bidang. Dalam sebuah seminar di Yogyakarta, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan:

 

”Kelumpuhan umat Islam dalam politik tidak berarti kelumpuhan mereka bergerak dalam bidang sosial dan kultural. Justru pada periode kemacetan dalam politik inilah umat Islam punya peluang yang baik sekali untuk melancarkan dakwah Islam dengan sasaran-sasaran yang lebih strategis.”

 

Macetnya saluran politik umat Islam tampaknya memang telah membuat mereka menyalurkan energinya ke bidang-bidang yang lain, terutama dalam penyebaran dakwah Islam.

      Ditetapkannya Pancasila sebagai asas tunggal kehidupan sosial politik di Indonesia mungkin merupakan ujian politik terbesar yang diberikan pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. Organisasi-organisasi pemuda yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal, walaupun kemudian dianggap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Orde Baru, tidak serta merta membubarkan diri mereka atau berhenti melakukan aktivitas. Sebagaimana dituturkan Damanik, mereka ”tetap bergerak sebagai ‘gerakan bawah tanah,’ membuat training dan pembinaan-pembinaan bagi pemuda-pemuda Islam.” Tekanan pemerintah justru membuat gerakan mereka jadi semakin ideologis dan kaderisasi yang mereka lakukan pada masa itu pada gilirannya melahirkan kader-kader muda yang militan. Kemunculan jilbab, yang menjadi tema penelitian ini, merupakan salah satu hasil dari kaderisasi dakwah yang gencar dilakukan pada masa-masa tersebut.

      Pada saat yang sama, situasi internasional juga ikut mempengaruhi dinamika pergerakan Islam di Indonesia. Tahun 1970-an merupakan tahun yang penuh pergolakan di dunia Islam. Berbagai peristiwa penting seolah menandai geliat baru umat Islam di berbagai negara. Mulai dari Perang Ramadhan (1973), embargo minyak Arab yang dipimpin oleh Raja Faisal (1973), Berkuasanya Zia Ul-Haq di Pakistan berikut program Islamisasinya (1977), dimulainya jihad Afghanistan (1979), hingga berkuasanya Khomeini lewat Revolusi Iran (1979). Mungkin dalam kaitan ini pula abad XV Hijriah, yang dimulai pada tahun 1400 H, ditetapkan sebagai abad kebangkitan Islam. Gagasan kebangkitan Islam ini terus bergulir selama tahun-tahun berikutnya.

      Dua hal eksternal yang disebut-sebut banyak memberikan pengaruh terhadap kemunculan jilbab di sekolah-sekolah negeri adalah Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979 dan pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan sejak tahun 1970-an. Revolusi Iran, yang dipimpin Khomeini dan berhasil menggulingkan rezim syah Iran ketika itu, ikut memberikan kontribusi bagi tumbuhnya semangat berjilbab di kalangan siswi-siswi muslim di Indonesia. Peristiwa tersebut mendapat perhatian yang luar biasa dari berbagai media masa dan memperlihatkan pada masyarakat dunia – termasuk masyarakat Indonesia – bagaimana wanita-wanita Iran menutupi tubuhnya secara rapat dengan jilbab dan busana muslimah. Namun, agaknya pengaruh ini lebih bersifat psikologis daripada ideologis, karena ideologi Syi’ah yang dianut oleh Revolusi Iran jelas-jelas tidak diadopsi atau dianut oleh siswi-siswi yang mengalami pelarangan jilbab di sekolah-sekolah negeri.

      Pengaruh yang lebih ideologis agaknya berasal dari pemikiran-pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Pemikiran Al-Ikhwan juga banyak tersosialisasi lewat training-training yang diadakan oleh masjid-masjid kampus, terutama Masjid Salman ITB lewat Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang dimotori oleh Ir. Imaduddin Abdul Rahim.


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
atrissha wrote on Feb 14, '07
makasih sharingnya ya..
kakrahmah wrote on Feb 15, '07
waktu masih sma sekitar tahun 2003, saya masih kena larangan foto ijazah ngga boleh pake jilbab.
beberapa teman akhirnya buka jilbab pas foto (meski saya coba membujuk)
saya tetap kekeuh foto berjilbab, karena mereka ngga bisa jelasin apa hubungannya foto dengan tidak boleh pake jilbab
wallahualam, apakah sekarang peraturan itu masih ada atau sudah dihapus??
alwialatas wrote on Feb 16, '07
makasih sharingnya ya..
Sama-sama Mbak.
alwialatas wrote on Feb 16, '07
waktu masih sma sekitar tahun 2003, saya masih kena larangan foto ijazah ngga boleh pake jilbab.
beberapa teman akhirnya buka jilbab pas foto (meski saya coba membujuk)
saya tetap kekeuh foto berjilbab, karena mereka ngga bisa jelasin apa hubungannya foto dengan tidak boleh pake jilbab
wallahualam, apakah sekarang peraturan itu masih ada atau sudah dihapus??
Sayangnya banyak pejabat sekolah kita masih kurang bersikap akomodatif terhadap busana Muslimah. "keharusan" foto tanpa jilbab itu kalau nggak salah dikaitkan dengan syarat lamaran untuk menjadi pegawai negeri yang sebetulnya tidak ada kaitan langsung dengan pihak SMU. Mudah-mudahan yang seperti ini sekarang sudah tidak terjadi lagi. Atau jangan-jangan ini masih terus berlangsung? Ada yang mau sharing soal ini?
anpratomo wrote on Feb 16, '07, edited on Feb 16, '07
Atau jangan-jangan ini masih terus berlangsung? Ada yang mau sharing soal ini?
Sepertinya sudah membaik Pak. Saya jadi PNS selepas SMA tahun 1992 karena kebetulan dapat beasiswa STAID (programnya BPPT waktu itu) untuk belajar ke luar negeri sekaligus wajib ikatan dinas di BPPT. Waktu saya berangkat ke LN untuk studi S1 tahun 1993, untuk paspor dinas masih diwajibkan melepas jilbab, begitu juga dengan kartu pegawai (atau apa gitu namanya, saya lupa. Pokoknya kartu yang menunjukkan kita PNS). Akhirnya saya kasih aja foto waktu masih kelas 1 SMA yang memang waktu itu belum berjilbab, meskipun itu juga saya lakukan dengan berat hati.


Tahun 1999, waktu saya mengurus paspor dinas baru untuk studi S2 ke Australia, masih diwajibkan lepas jilbab, jadi saya menolak, dan memilih pakai paspor biasa (paspor hijau) meskipun akibatnya saya harus bayar fiskal 1 juta rupiah di bandara.


Di tahun2 selanjutnya, teman2 lain yang berjilbab tidak diharuskan lepas jilbab untuk kartu pegawai negeri. Waktu saya berangkat ke Jerman untuk studi doktoral tahun 2005, saya awalnya khawatir akan dipermasalahkan lagi ttg jilbab di paspor dinas. Kalau sampai terjadi lagi, saya sudah siap2 untuk mengulang pengalaman waktu mau studi S2, dengan memilih pakai paspor hijau. Tapi alhamdulillah, rupanya sudah ada kemajuan juga di deplu (karena paspor dinas dikeluarkan oleh deplu, bukan seperti paspor hijau yang dikeluarkan oleh kantor imigrasi setempat kalau gak salah), saya dibolehkan tetap berjilbab rapi (maksudnya tidak perlu keluarin kupinng kayak mickey mouse :-D ). Semoga dengan begini, muslimah pegawai negeri yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri tidak lagi merasa dihalangi hak-haknya.


Maaf sharingnya kepanjangan.
anpratomo wrote on Feb 17, '07
Ada yang mau sharing soal ini?
Maksudnya ini sharin tentang jilbab di ijazah SMU ya? Maaf klo gitu, soalnya sepertinya reply-an saya di atas gak nyambung :-) *malu* Saya malah jelasin jilbab di administrasi PNS. Maaf ya...he..he..he..
alwialatas wrote on Feb 17, '07
Maksudnya ini sharin tentang jilbab di ijazah SMU ya? Maaf klo gitu, soalnya sepertinya reply-an saya di atas gak nyambung :-) *malu* Saya malah jelasin jilbab di administrasi PNS. Maaf ya...he..he..he..
Gak apa Mbak, informasi tersebut juga insya Allah sangat bermanfaat :-). Berarti teman-teman muslimah yang berjilbab tidak perlu terlalu khawatir lagi karena agaknya keadaan semakin membaik belakangan ini. Makasih Mbak.
herisudarsono07 wrote on Sep 1, '07
salam pak Alwi.....akhirnya ketemu di blog juga....
ev4n wrote on Jan 27, '08
dulu para pendahulu mati2an memperjuangkan selembar kain titah Tuhan ini agar di legalkan sebagai identitas mslimah, sekarang justru di era "Dakwah lepas landas"banyak yg menyepelekan harga sebuah jilbab (kasus kudung gaul,prilaku jilbaber yg tak sesuai dgn pakaiAn taqwanya) kuantitas banyak seperti buih di lautan, bagaimana atuh ?
alwialatas wrote on Jan 29, '08
:(
novalpalandi wrote on Feb 27, '08
Assalamu'alaykum. Saya dah lama ngeresensi buku revolusi jilbab tapi masih belum tak masukan blog. ya biar mungkin bisa dibaca oleh kawan2 yang lain. tp memang buku revolusi jilbab itu ngasi info banyak tentang sejarah jilbab di indonesi maupun hubungannya dengan pemerintahan waktu itu.
alwialatas wrote on Feb 28, '08
Wa'alaikum salam. Bagusnya dimasukkan ke Blog Mas. Supaya yang lain bisa dapat manfaatnya juga :).
theair wrote on Jan 9, '09
hmm... jaman2 pelarangan jilbab itu ane masi bocah pak, belom ngerti diri sendiri apalagi tentang Islam...

Tapi justru dengan tekanan seperti itu, kader2 militannya lebih berkualitas dibandingkan jaman sekarang..

ya ngga pak?
alwialatas wrote on Jan 9, '09
theair said
hmm... jaman2 pelarangan jilbab itu ane masi bocah pak, belom ngerti diri sendiri apalagi tentang Islam...

Tapi justru dengan tekanan seperti itu, kader2 militannya lebih berkualitas dibandingkan jaman sekarang..

ya ngga pak?
Benar tuh. Pemakai jilbab yang belakangan malah suka berperilaku kurang sesuai dengan jilbab yang dikenakannya. :(
eowyndiary wrote on May 31, '10
bacaan yg sangat bagus..sy baru tau soal sejarah dulu knapa jilbaber diduga kaum ekstremis dan pelarangannya sangat kuat...
smoga bisa menjadi ibroh bagi anak "generasi sekarang"..
saya share yah...
trmksh :)
alwialatas wrote on Jun 2, '10
bacaan yg sangat bagus..sy baru tau soal sejarah dulu knapa jilbaber diduga kaum ekstremis dan pelarangannya sangat kuat...
smoga bisa menjadi ibroh bagi anak "generasi sekarang"..
saya share yah...
trmksh :)
Silahkan, semoga bermanfaat.
Add a Comment